Jumat, 12 Agustus 2011

Putri Salju

B. SINOPSIS CERITA
Cerita “Putri Salju yang tertidur” merupakan cerita fiktif dalam cerita ini menggambarkan kisah seorang putri salju yang dibuang ke hutan oleh kakak kandungnya sendiri yaitu putri salju, karena di merasa iri kepada putri salju, karena di merasa bahwa Raja dan Ratu akan memberikan jodoh yang lebih baik kepada putri Salju. Putri Salju setelah dikasih minuman oleh Putri Cemara akhirnya tertidur dan kemudian dibuang di hutan 7 Kurcaci. Ditengah hutan itu Putri Salju yang tidur itu ditemukan oleh 7 Kurcaci yang kemudian mengadakan sayembara untuk dapat membangunkan Putri Salju yang akhirnya dijadikan pendamping hidupnya.

Pangeran yang ikut sayembara harus melalui 4 tantangan dari 7 Kurcaci yaitu Kurcaci Pintar, Kurcaci Penyanyi, Kurcaci Lemot, Kurcaci Diplomat, Kurcaci Centil, Kurcaci Makan, Kurcaci Tidur. Dan Pangeran tersebut harus lulus dalam 4 tantangan agar mempunyai kesempatan untuk membangunkan Putri Salju. Setelah beberapa pangeran gagal, suatu hari ada 1 pangeran yang lolos dalam sayembara itu, yaitu Pangeran dari Kerajaan Moestopo dan sesuai dengan petunjuk dalam botol racun yang diminum Putri Salju, Pangeran harus bernyanyi lagu bintang kecil vokal ‘v’ sambil mengitarinya dengan berlompat-lompat 3 kali kemudian mencium Putri Salju yang akhirnya terbangun dan bertemu dengan Pangeran. Akan tetapi tak berapa lama Pangeran merasa haus dan meminum racun dalam botol yang ia temukan dan setelah minum itu Pangeran merasa ngantuk dan tertidur Pulas Putri Salju jadi bingung dan memanggil-manggil pangeran yang udah tidur.

C. SKENARIO
“PUTRI SALJU YANG TERTIDUR”
Babak I
(Dansa Raja dan Ratu)
Raja               : Dinda kau lihat awan beringin itu, indah sekali, udara pagi yang menyegarkan, burung-
                      burung berkicauan. Lihat itu ada kupu-kupu mereka selalu beriringan menghinggapi
                      bunga, sungguh pagi yang cerah.
Ratu               : Iya, Kanda. Saya juga merasa seperti itu, pagi ini sepertinya lain banget dari biasanya
                      semuanya  indah banget. Jadi teringat waktu kita pacaran dulu, kita selalu di taman, di kebun.
                      kita mencari bunga, kita melihat kupu-kupu mendengar suara burung, ahh…. pokoknya
                      romantis banget Kanda.

naskah drama bawang merah bawang putih

BAWANG MERAH BAWANG PUTIH
Alkisah di sebuah desa hiduplah satu keluarga yang terdiri dari: Ibu, Bapak dan seorang anak perempuan yang bernama “Bawang Putih”, mereka hidup bahagia.
Pada suatu hari musibah menimpa keluarga mereka, Ibu si Bawang Putih sakit parah. Ketika itu bapaknya sedang berdagang, Ibu si Bawang Putih tidak bisa diobati akhirnya meninggal dunia.
Si Bawang Putih sangat sedih sekali karena ditinggalkan Ibunya, sedangkan Bapak yang disayangi menikah lagi dengan wanita lain yang telah mempunyai anak perempuan yang bernama “Bawang Merah”. Bawang Putih semakin hari semakin sedih dan menderita karena disiksa oleh Ibu dan saudara tirinya.
Pada suatu hari lewatlah seorang pangeran yang tampan dia melihat Bawang Putih sedang mencuci baju di sungai, dia melihat kecantikannya dan kemudian jatuh hati padanya. Pangeran mengejar si Bawang Putih kerumahnya tetapi dihalangi oleh saudara tirinya, tapi karena kebaikan si Bawang Putih akhirnya dilamarlah oleh pangeran itu dan akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.
C. NASKAH DRAMA
Alkisah disebuah desa hiduplah satu keluarga yaitu Bawang Merah dan Bawang Putih, yang dalam hidupnya Bawang Putih penuh dengan siksaan dan hinaan serta omelan, hingga suatu ketika si Bawang Merah memanggil Bawang Putih dengan penuh amarah.
Babak I
1. Bawang Merah: Putih… Putih…!! kesini kamu. Kamu… harus membersihkan ruang tamu ini sampai bersih, jangan sampai ada debu-debu yang masih menempel. (sambil berkacak pinggang). Ingat ya! (menjitak kepala Bawang Putih) kalau sampai aku datang ruangan ini tidak bersih tahu sendiri nanti akibatnya! (mencebir dan membuang muka).
2. Bawang Putih : Baik, Bawang Merah! (merunduk dan pergi mangambil sapu).
3. Ibu & B. Putih : Lho, kok sepi. Bawang Putih kemana ya, kok ngak kelihatan! (sambil melihat kanan kiri) Putih… Putih… Putih…! kemana ya anak itu dipanggil-panggil gak nyaut!
4. Bapak & B. Putih: Ada apa sih bu…! (dengan perasaan tanda tanya).
5. Ibu & B. Merah : Eh…! Bapak, lho kapan Bapak yang datang kok Ibu nggak dengar Bapak ngetok-ngetok pintu. (sambil memegang tangannya).
6. Bapak dan B. Putih : E… tadi bu, memang Bapak sengaja nggak ngetok-ngetok pintu, soalnya bapak dengar Ibu berteriak-teriak memanggil-manggil Bawang Putih, Emangnya si Bawang Putih kemana bu? Dan kenapa dia? (dengan penuh keheranan).
7. Ibu & B. Merah : Oh tidak ada apa-apa pak (sambil mengelus-ngelus tangan suami) Ibu takut Bawang Putih kenapa-napa, e tak tahunya lagi istirahat dikamarnya, pak. (sambil merebah kepundaknya).
8. Bapak & B. Putih : Terima kasih ya bu, Bapak bangga sekali punya istri sebaik Ibu, dan saya sayang sekali sama Ibu juga anak kita berdua (mengelus rambut istri) kalau begitu Bapak berangkat berdagang lagi ya bu, paling disana saya 1 minggu. Ibu jaga diri baik-baik ya dan juga anak kita baik-baik, oh ya ini ada sedikit uang buat belanja (sambil menyodorkan uang). Baiklah bu Bapak berangkat dulu ya. (mengulurkan tangannya).
Ibu B. Merah : Iya pak (sambil mencium tangan Bapak) hati-hati dijalan, da…! Hem… dasar suami bodoh, kamu kira saya betul-betul mencintai kamu apa! Tidak ya, saya hanya mencintai uang dan rumah kamu ini… ha… ha… ha… (sambil menepuk-nepuk uang). Putih… putih…putih… kesini kamu! (berkacak pinggang).
9. Bawang Putih : Ya… ya… bu, ada apa bu?
10. Ibu B. Putih : Kemana aja sih kamu ha… kaman aja? (sambil menarik dan mendorong Putih) dipanggil-panggil dari tai nggak ada jawaban, kamu tuli ya… (sambil membuang muka).
11. Bawang Putih : Baik bu…! (dengan nada ketakutan).
12. Ibu B. Merah : Ya bagus, (sambil mengangguk-ngangguk kepala) sekarang kamu cuci baju itu sampai bersih mengerti? Ingat Bawang Putih, sebelum Ibu datang cucian ini dan lantai ini sudah harus bersih! Dengar….! (nada keras membentak).
Maka berangkatlah Bawang Putih ke sungai untuk mencuci baju itu, sambil menangis Bawang Putih Berkata!
13. Bawang Putih : Ya Allah, ampunilah dosa-dosa Ibu tiriku, berikanlah kekuatan dalam menghadapi cobaan ini. Ya Allah bukakanlah pintu hati Ibu tiriku dan saudara tiriku agar dia mau menyayangiku. (sambil menangis)
14. Pengawal I : Maaf tuan, e… lihat disana tuan, sepertinya ada seorang wanita. (sambil menunjuk).
15. Pengawal II : Ya benar tuan, sepertinya lagi mencuci pakaian tuan! (dengan penuh semangat).
16. Pangeran : Iya, betul-betul, tapi… sama siapa ya dia? Apa dia sendirian pengawal? (dengan penuh keheranan dan melihat kearah wanita itu, sambil berfikir) pengawal coba kalian lihat kesana…! (sambil menunjuk).
17. Pengawal I & II : Baik tuan…! (sambil mengangguk).
18. Pengawal I : Tuan, ternyata perempuan itu sendirian…!
Pengawal II : Perempuan itu cantik tuan dan kelihatannya orang baik-baik!
19. Pangeran : (Sambil mengangguk-ngangguk) Mari pengawal kita kesana…! (sambil menunjuk).
20. Pengawal I & II : Baik tuan…!
21. Pangeran : E… e… nona! (dengan gugup dan malu). Kalau boleh saya tahu nama nona siapa? Dan nona berasal dari mana? Dan kenapa pula sendirian di sungai yang sangat sepi ini…?
22. Bawang Putih : Maaf… tuan…! (sambil menjinjing rok dan mau berlari pergi).
23. Pangeran : Jangan… jangan… nona, jangan lari, saya bermaksud baik, saya lihat nona sendirian, jadi saya memberanikan diri menghampiri nona! (dengan senyuman).
24. Bawang Putih : Nama saya Bawang Putih tuan, saya berasal dari desa seberang, e… tapi maaf tuan, saya tidak bisa berlama-lama disini, saya takut dimarahi Ibu saya tuan…!
25. Pangeran : Tunggu… tunggu…! tunggu nona…! (sambil berteriak) mari pengawal kita ikuti Bawang putih itu, dimana sebenarnya rumahnya!
Kemudian berangkatlah Pangeran dan 2 pengawalnya untuk menuju rumah Bawang Putih, Pangeran merasa dialah wanita yang selalu diidam-idamkan, kemudian si Pangeran bergegas pergi ke rumah si Bawang Putih.
26. Ibu Bawang Merah : Anakku coba lihat disana, siapa itu yang datang? (dengan penuh keheranan).
27. Bawang Merah : Iya bu, sepertinya yang datang Pangeran. Aduh betapa gagahnya dan gangteng Pangeran itu. (dengan senyuman).
28. Ibu Bawang Merah : Tenang sayang, Ibu tahu kedatangan Pangeran itu ingin mencari permaisuri. (sambil memegang pundaknya).
29. Bawang Merah : Benarkah itu bu? Tolong saya bu, saya mau menjadi permaisuri Pangeran itu bu. (berloncat kegirangan).
30. Pangeran : Permisi…, permisi…!
31. Ibu Bawang Merah : Tuan…! (dengan terkejut)
E… ada apa gerangan tuan datang kegubuk kami ini, apa tuan mau mempersunting anak kami, yang cantik dan manis ini tuan? (sambil memegang dagu Bawang Merah).
32. Pangeran : Tidak…! (dengan lantang)
Saya kesini hanya untuk melamar anak ibu si Bawang Putih untuk menjadi permaisuriku. (dengan penuh senyuman).
33. Bawang Merah : Kenapa sih Pangeran lebih suka Bawang Putih dari pada saya, padahal Pangeran Bawang Putih orangnya licik sekali dan suka mempermainkan lelaki, tidak seperti saya yang baik, patuh dan setia. (sambil senyum gembira).
Lagian Pangeran Bawang Putih itu orangnya jelek tidak seperti saya cantik, manis, dan menarik, ia kan Pangeran?
34. Pangeran : E… iya-ya betul, kamu juga cantik, manis dan menarik nona, tapi sayang hati saya sudah terpikat sama si Bawang Putih, saya mohon tolong panggilkan Bawang Putih segera…!
35. Bawang Merah : Huuuh…! Bawang Putih, Bawang Putih lagi, emangnya nggak ada orang lain selain Bawang Putih, huuuh… sebel…!! (sambil menghentakkan kaki). Putih…! Puith…!!
36. Bawang Putih : Iya, mbak…!!!
37. Bawang Merah : Kesini kamu lihat ini ada Pangeran mau mempersunting kamu menjadi istrinya. (dengan mimik yang sinis penuh kebencian).
38. Pangeran : Bawang Putih, maukah kamu menjadi permaisuriku? (memberikan senyuman).
39. Bawang Putih : (Merunduk penuh senyuman dan malu-malu, berarti dia mau).
40. Ibu Bawang Merah : Maaf tuan, itu berarti tandanya Bawang Putih setuju menjadi permaisuri tuan!
41. Pangeran : Mari kesini Bawang Putih, ikutlah kamu keistanamu kamu akan aku persunting menjadi permaisuriku! (mengulurkan tangan dan menggandeng Bawang Putih pergi).
42. Bawang Putih : Ibu…! (menghampiri Ibu dan memeluknya).
Bawang Merah…! (menghampiri Bawang Merah dan memeluknya).
43. Pangeran : Baiklah bu, saya akan membawa Bawang Putih ke istanaku dan akan aku jadikan permaisuriku. (dengan senang hati).
Kalau begitu kami berangkat dulu bu, permisi…! (berjalan keluar rumah).
44. Ibu Bawang Merah : Ya tuan…!
Maka berangkatlah Pangeran dan Bawang Putih beserta pengawalnya untuk menuju istana kerajaan dan dijadikanlah Bawang Putih sebagai permaisuri, samapai akhirnya Pangeran dan Bawang Putih bahagia selamanya
“Kejahatan tidak bisa mengalahkan kebaikan, dan manusia memang mahluk paling sempurna di muka bumi, namun karna kesempurnaan itu kadang mereka lalai pada apa yang membuat mereka menjadi sempurna”.

point blank


naskah drama cinderella


naskah drama cinderella
CINDERELLA

Suatu pagi Cinderella sedang membersihkan rumah, tanpa sengaja ia menjatuhkan guci dan pecah.
Ibu : “Cinderella apa yang kamu lakukan? Kamu telah memecahkan guci kesayanganku. Dasar anak tidak tau diuntung! Sekarang kamu masuk gudang! Dan kamu tidak mendapat jatah makan selama satu minggu.”
Cinderella : “Maaf Ibu, saya tidak sengaja memecahkan vas ini…”

Ibu tidak mempedulikan kata-kata Cinderella dan mendorong Cinderella masuk ke gudang. Cinderella menangis. Tiba-tiba muncul sosok makhluk.
Gatot : “Oh, Putri Cinderellaku cantik jelita menawan hati, mengapa dirimu bersedih?”
Cinderella : “Kamu siapa?” (terkejut)
Gatot : “Nama saya Gatot. Dan ini Kaca. Dalam bahasa Jawa disebut “kaca”. Jadi kamu bisa panggil saya Gatotkaca. Dan ini…”
Tiba-tiba muncul sosok makhluk lain.
Sri : “Namaku Sri dan ini Kendi. Dalam bahasa Jawa disebut “kendi”. Jadi panggil aku Srikendi.”

Gatotkaca dan Srikendi pun menari-nari yang membuat Cinderella tertawa. Pada saat itu juga, dua saudara tirinya mendengar suara berisik dari dalam gudang.
Kakak 1 : “Ssss… suara apa itu Kak?”
Kakak 2 : “Itu pasti suara Cinderella. Yuk kita lihat.”
Kakak 1 : “Cinderella!!! (sambil mendobrak pintu) Apa yang kamu lakukan?”
Kakak 2 : “Kenapa kamu tertawa-tawa sendiri? Sudah gila kamu. Lihat itu kerjaan di dapur masih banyak.”
Cinderella : (tertunduk) “Hiks… hiks… hiks…” (menangis)
Kakak 2 : “Dasar cengeng!” (mendorong Cinderella sampai jatuh tersungkur ke lantai)
Kakak 1 : “Akan aku bilangin Mami kamu… Nyahok!”

Sementara itu, di kerajaan Raja dan Ratu sedang pusing memikirkan Pangeran. Pangeran yang sudah dewasa tapi belum mempunyai istri.
Ratu : “Bagaimana ini, Baginda? Pangeran sudah dewasa, tetapi dia belum mempunyai istri.”
Raja : “Jangan sedih, Ratu. Kita akan mencari jalan keluarnya.”
Ratu : “Jalan keluar apa, Baginda?”
Raja : “Ratu, bagaimana kalau kita mengadakan pesta untuk Pangeran dengan mengundang gadis-gadis cantik di seluruh negeri?”
Ratu : “Pesta dengan gadis-gadis cantik? Ouh… Baginda, saya sangat setuju.”
Raja : “Baiklah, akan kupanggil ajudan untuk membuat surat pengumuman. Ajudan….!”
Ajudan : “Iya, Baginda. Ada apa gerangan?”
Raja : “Buatlah surat pengumuman pesta. Sebarkan ke seluruh negeri dan umumkan rencaa kita untuk mengadakan sebuah pesta.”
Ajudan : “Baik, Baginda.”

Ajudan keliling ke seluruh negeri dan sampailah di rumah Cinderella.
Ajudan : Tok… tok… tok…
Ibu : “Iya…!!!” (dengan nada tinggi)
Ajudan : “Permisi, Nyonya. Saya utusan dari kerajaan untuk menyerahkan surat undangan pesta di kerajaan.”
Ibu : “Pesta???”
Ajudan : “Ya, pesta untuk mencarikan calon istri Pangeran”
Ibu : “Ya, pasti kami datang.”
Ajudan : “Baik, Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu.”

Setelah Ajudan pergi, Ibu langsung menemui kedua anaknya.
Ibu : “Anak-anakku, lihat ini…”
Kakak 1&2 : “Ada apa, Ibu?”
Ibu : “Lihat berita dari prajurit istana. Istana akan membuat pesta untuk Pangeran. Dia ingin mencari pendamping hidupnya. Kalian ingin kan jadi istri Pangeran dan hidup di istana?
Kakak 1 : “Pasti, Bu. Pasti Pangeran akan memilih aku menjadi permaisurinya. Aku akan memakai gaun yang indah dalam pesta itu. Dan pangeran akan memilihku.”
Kakak 2 : “Apa kamu bilang? Kamu akan dipilih jadi permaisuri? Tidak salah? Pasti Pangeran akan memilih aku, karena aku lebih cantik daripada kamu.”
Cinderella : “Ibu… bolehkah aku ikut ke pesta itu?”
Ibu : “Apa kamu bilang? Kamu pikir kamu siapa? Aku tidak akan mengizinkanmu datang ke pesta itu.” (sambil memandang kedua anaknya)
Cinderella : “Mengapa, Ibu? Bukankan aku juga anakmu?” (sambil menangis)
Ibu : “Oh… begitu. (sambil memikirkan sesuatu) Baiklah kamu boleh ikut dan dating ke pesta itu. Tapi, kamu harus membersihkan seluruh isi rumah, mencuci baju, mencuci piring, menyapu lantai dan sapu semua halaman rumah, baru kamu boleh pergi ke pesta itu.”
Cinderella : “Terima kasih, Ibu. Aku akan segera melakukan pekerjaan itu.”

Tetapi dari luar gudang, Ibu mengunci pintu gudang agar Cinderella tidak bisa datang ke pesta itu. Setelah beberapa saat…
Cinderella : “Ibu… Ibu… jangan tinggalkan aku…” (Cinderella berteriak dan menangis, tapi Ibu tirinya tak mempedulikan)
Gatot : “Oh… putri Cinderellaku, ada apa gerangan yang membuatmu sedih?”
Srikendi : (sambil mengusap kendi) Oh… putriku… jangan sedih, sayang!”

Cinderella hanya tersenyum simpul dan menceritakan apa yang terjadi.
Gatot : “Jangan sedih putri… kami akan membantumu keluar dari tempat ini dan bisa pergi ke pesta.”
Sri : “Iya putriku… jangan khawatir.”
Cinderella : “Tetapi bagaimana caranya? Aku saja tidak bisa keluar dari sini. Dan aku tidak punya gaun yang bagus.” (sambil menangis)
Gatot : “Jangan menangis putriku sayang. Aku dan Sri pasti akan membantumu.”
Sri : “Iya, putriku. Kamu jangan sedih.”
Cinderella : “Terima kasih, Gatot. Terima kasih, Sri. Aku tidan tahu harus bilang apa saa kalian.” (menangis terharu dan memeluk Sri)
Gatot : “Sri, sekarang mari kita beraksi!”
Sri : “Ayo, soulmateku.”
Gatot : “Apa yang bisa aku lakukan?”
Sri : “Aku tahu. Kamu mempercantik wajah putri dengan kaca ajaibmu.”
Gatot : “Yupz…” (dia menggerakkan kacanya)
Sri : “Hap…” (mengeluarkan sesuatu dari kendinya)

Seketika Cinderella berubah penampilan, tapi…
Gatot : “Tidak… tidak… ini tidak bagus. (agak mengejek) Gaunnya juga jelek.”
Sri : “Lihat wajah putri pun tidak karuan. Bagaimana kamu ini?”

Kemudian Gatot kembali menggerak-gerakkan kacanya dan Srikendi juga kembali mengambil sesuatu dari kendinya.
Gatot : “Wow… Sempurna!” (kagum)
Sri : “Yeah… Kamu kelihatan sangat cantik, putriku.”
Cinderella : “Wah… Aku tidak percaya ini semua bisa terjadi. (terkejut)
Terima kasih Gatot, Sri.”
Gatot : (mengubah buah durian menjadi kereta kencana yang sangat megah)
“Ini untukmu, Tuan Putri.”
Sri : “Wah… Tumben otakmu encer. Biasanya kan kamu mikir memakai lutut.”

Cinderella pergi ke istana dengan perasaan senang dan bahagia. Di istana, para tamu undangan sudah berkumpul di tempat dansa. Segera Ibu tiri dan kedua anaknya menghampiri Pangeran.
Ibu : “Pangeran, berdansalah dengan anak-anakku. Mereka begitu cantik dan menawan. Pilihlah salah satu, Pangeran.”
Kakak 1 : “Pilih aku saja, Pangeran. Aku lebih cantik dan pintar menari daripada dia.”
Kakak 2 : “Pangeran tidak akan memilihmu. Dia pasti lebih memilih aku.”
Kakak 1 : “Tidak. Pangeran pasti memilih aku.”
Kakak 2 : “Pasti memilih aku.”
Kakak 1 : “Pilih aku, Pangeran.”
Kakak 2 : “Pilih aku saja, Pangeran.” (bertengkar)

Pangeran bingung. Tiba-tiba Cinderella data dan semua undangan yang tadinya sibuk sendiri mata mereka langsung tertuju pada Cinderella. Pangeran yang melihat kecantikan Cinderella langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Pangeran : “Wahai putri yang sangat cantik. Maukah kau berdansa denganku?
(sambil menjulurkan tangannya)
Cinderella : (mengangguk, lalu menjalurkan tangannya juga)

Pangeran dan Cinderella lalu berdansa dengan asyiknyaq.
Pangeran : “Siapa namamu, putri cantik? Darimana kau berasal?”
Cinderella : “Itu tidak penting buatmu.”
Pangeran : “Mengapa tidak penting. Agu ingin tahu namamu. Kau sungguh cantik, Putri. Maukah kamu menjadi pendamping hidupku.”
Cinderella : “Pendamping hidupmu?”
Pangeran : “Beri tahu dulu siapa namamu?”
Cinderella : “Namaku Cin…”
Bel berbunyi. Teng… teng…teng…
Cinderella : “Pangeran aku harus pergi.” (bruk)
Pengeran : “Tunggu, Putri…”
Cinderella : “Tekleknya tertinggal.”

Keesokan harinya, Pangeran mengumumkan adanya sayembara ke seluruh RT. Barangsiapa yang dapat pas memakai teklek ini, maka akan menjadi pendamping Pangeran. Pangeran dan ajudannya mendatangi setiap rumah warga. Tibalah Pangeran dan ajudannya di rumah terakhir. Kedua anak Ibu Tiri menyuruh Cinderella untuk pergi menembak burung di laut. Tetapi pada intinya menyuruh Cinderella untuk bersembunyi agar Pangeran dan ajudannya tidak mengetahui ada Cinderella.
Tok… tok… tok…
Ibu : “Siapa di sana?”
(terkejut saat membuka pintu, saat melihat siapa yang datang)
Ajudan : “Pangeran akan mencari gadis untuk mencoba teklek ini. Siapa yang pas memakainya akan menjadi pendamping Pangeran.”
Ibu : “Anak-anakku… ayo kemari. Ada Pangeran di sini. Cepat kalian pakai teklek ini. Pasti salah satu dari kalian pas dan akan menjadi pendamping Pangeran.”
Kakak 1 : “Apa… Pangeran? Pangeranku…!”
Kakak 2 : “Bukan! Itu Pangeranku…” (menghampiri Pangeran)
Ajudan : “Para putri yang cantik, cobalah teklek ini.”
Kakak 1 : “Aku akan mencoba duluan.”
Kakak 2 : “Aku dulu…”
Kakak 1 : “Tidak. Aku dulu! Aku yang lebih tua.”
Kakak 2 : “Tidak bisa! Aku dulu!”
Ibu : “Hey… kalian jangan berebut. Aku dulu. Aku juga ingin menjadi permaisuri.”
Kakak 1&2 : “Huuh… Ibu!”
Kakak 1 : “Sekarang giliranku. Wah, ternyata kekecilan.”
Kakak 2 : “Sekarang giliran aku. Pasti muat!”

Setelah dipakai ternyata juga kekecilan
Pangeran : “Apakah tidak ada orang lain di rumah ini?”
Ibu : “Oh… Pangeran, di rumah ini hanya ada saya, kedua anak saya dan seorang pembantu.”
Pangeran : “Bawa ke sini pembantu itu…”
Ibu : “Tetapi Pangeran… Dia sedang tidak ada di rumah.”

Tiba-tiba Cinderella muncul dari balik pintu. Pangeran melihat kedatangannya dan semat mata mereka bertemu. Tetapi Cinderella langsung mengalihkan pandangannya dan pergi.
Pangeran : “Siapa gadis itu?”
Ibu : “Yang mana, Pangeran?”
Pangeran : “Baru saja aku melihatnya.”
Kakak 2 : “Paling Pangeran salah lihat.”
Pangeran : “Cepat, panggil dia kemari!”
Kakak 1 : “Tapi, dia hanya pembantu kusut. Tidak berguna.”
Pangeran : “Cepat!” (dengan nada marah)
Ibu : “Iy…iya, Pangeran. (ketakutan)
Cinderella…” (dengan nada tinggi)

Cinderella pun memasukkan kaki kanannya ke dalam teklek. Semua orang yang ada di situ terpana, terkejut, dan tidak percaya. Teklek itu sangat pas dan sesuai di kaki Cinderella. Kemudian Cinderella pun menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ia juga menunjukkan teklek yang satunya. Pangeran sangat gembira, karena akhirnya ia menemukan cinta sejatinya.
Pangeran : “Maukah kau menjadi istriku?”
Cinderella : “Tentu saja, Pangeran.”

Dan pada akhirnya Cinderella dan Pangeran menikah. Kini dia hidup dalam kebahagiaan. Meski demikian, ia tidak lupa pada Ibu dan kedua kakak tirinya. Mereka juga dibawa Cinderella ke istana. Mereka pun menyadari kesalahannya dan merubah sikapnya terhadap Cinderella.